Rabu, 14 September 2011

ETIKA DAN SOPAN SANTUN


TAFSIR SURAT AL-HUJURAT AYAT 1-13


I.       PENDAHULUAN
      Surat Al Hujurat terdiri dari 18 ayat dan diturunkan di madinah, oleh karena itu termasuk surat madaniyah. Al Hujurat berasal dari kata Hujratun (حُجْرَةٌ) yang memiliki arti kamar atau ruangan. Al Hujurat termasuk shighat bentuk jamak dari Hujrah sperti yang termaktub dalam ayat ke 4 :
إن الذين ينادونك من ورآء الحجرات أكثرهم لا يعقلون.۝ 
 “ Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti ”

      Di sini hanya akan membahas ayat 1-13, yang mana ayat-ayat tersebut membahas tentang perintah dan larangan serta anjuran bagi kaum muslim, sehingga mereka benar-benar menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah dan rasul-Nya serta menjadi orang yang shalih.

II.    TAFSIR AYAT 1-13

يأيها الذين ءامنوا بين يدي الله ورسوله, والتقوا الله, إن الله سميع عليم(1) يأيها الذين ءامنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي ولا تجهروا له بالقول كجهر بعضكم لبعض أن تحبط أعملكم وأنتم لا تشعرون(2) إن الذين يغضون أصواتهم عند رسول الله أولئك الذين امتحن الله قلوبهم للتقوى, لهم مغفرة وأجر عظيم(3)
1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.
3. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

      Firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya”. Yaitu, janganlah kalian tergesa-gesa di dalam berbagai hal sebelum Rasulullah memberi pengarahan, tetapi jadilah kalian semua sebagai pengikutnya dalam semua perkara. Termasuk dalam penetapan hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya.
      Maka, masuk pula di dalam keumuman adab syar’i ini sebuah hadits Mu’adz r.a ketika ditanya Rasulullah  saat beliau mengutusnya ke negri Yaman.

بم تحكم ؟ قال : بكاب الله تعالى, قال صل الله عليه وسلم : فإن لم تجد؟ قال : بسنة رسول الله, قال النبي ص.م : فإن لم تجد؟ قال رضي الله عنه : أجتهد رأيي. فضرب في صدره وقال : الحمد لله الذي وفّق رسول الله ص.م. إلى ما يرضي رسول الله. (رواه أحمد وأبوداود والترمذي وابن ماجه)
“ Dengan apakah kamu akan menetapkan hukum?, Dia menjawab: dengan kitab Allah, Nabi bertanya lagi : bila engkau tidak mendapatkannya?, Mu’adz menjawab: dengan sunah Rasulullah, Nabi bertanya : bila tidak menemukannya?, Mu’adz menjawab: aku akan berijtihad dengan pendapatku. Maka Rasulullah menepuk dadanya seraya berkata; “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah terhadap sesuatu yang diridhai oleh Rasulullah.”

Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi”, penggalan ini merupakan etika kedua, yang dengannya Allah mendidik orang-orang beriman agar mereka tidak meninggikan suara mereka dihadapan Rasulullah yang melebihi suaranya, atau bahkan terhadap orang-orang yang terhormat.
Kemudian Allah melarang manusia berkata  kepada Nabi dengan suara keras seperti seorang yang berkata kepada lawan bicaranya dalam adu mulut. Namun, dia harus berkata kepadanya dengan tenang, penuh hormat, dan ta’dzim. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Janganlah berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain”, hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surat An-Nuur ayat 63 :
لا تجعلوا دعاء الرسول بينكم كدعاء بعضكم بعضا ....( النور:63)
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain) ”

      Kemudian, Allah menyunahkan agar untuk merendahkan suara di dekat beliau, sangat menganjurkan, memberikan bimbingan dalam melakukannya dan memberikan semangat tinggi di dalamnya. Maka Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa“. Allah membersihkan hati-hati itu untuk bertaqwa dan menjadikannya sebagai pemilik serta tempat ketaqwaan, “Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar“.
إن الذين ينادونك من وراء الحجرات أكثرهم لا يعقلون(4) ولو أنهم صبروا حتى تخرج إليهم لكان خيرا لهم, والله غفور رحيم(5)
4. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
5. dan kalau Sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka Sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

        Kemudian Allah mencela orang-orang yang memanggil-manggil Rasulullah yang tengah berada di balik hujurat, yaitu rumah-rumah yang di huni oleh para istri beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Arab Badui (pedalaman) yang bertabiat kasar-kasar. Maka Allah berfirman, “Kebanyakan mereka tidak mengerti“, kemudian Allah memberi bimbingan tentang etika yang berkenaan dengan hal itu dengan firman-Nya, “Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesunguhnya hal itu lebih baik bagi mereka”. Maka pastilah bagi mereka di dalam hal itu mempunyai kebaikan dan kemaslahatan di dunia dan akhirat. Kemudian, Allah berfirman seraya menyerukan kepada mereka untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya, “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.

يأيها الذين ءامنوا إن جآءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين(6) واعلموا أن فيكم رسول الله, لو يطيعكم في كثير من الأمر لعنتم ولكن الله حبب إليكم الإيمان وزينه في قلوبكم وكره إليكم الكرف والفسوق والعصيان, أولئك هم الراشدون(7) قضلا من الله وتعمة, والله عليم حكيم(8)
6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
7. dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
8. sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

      Allah memerintahkan untuk menyakinkan perihal berita yang dibawa oleh orang fasiq demi kewaspadaan terhadapnya, agar tidak ditepkan suatu keputusan berdasarkan perkataan orang fasiq itu. Maka, orang tersebut pada hakikatnya telah berdusta atau telah berbuat kekeliruan sehingga orang yang menetapkan suatu keputusan bedasarkan perkataannya berarti telah mengikuti orang fasik, padahal Allah melarang mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan. Beranggkat dari sini pula para ulama’ melarang menerima periwayatan suatu hadits dari orang yang keadaannya tidak diketahui, karena pada kenyataannya mungkin orang itu fasiq.
       Firman Allah, “Dan ketahuilah olehmu bahwa dikalangan kamu ada Rasulullah“. Yaitu, ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu itu ada Rasulullah, maka agungkanlah ia, berlakulah sopan di hadapannya, dan ikutilah perintahnya, karena dia lebih tahu tentang kemaslahatan kamu dan lebih sayang kepada dirimu dari pada kasih sayangmu kepada dirimu sendiri. Dan pendapatnya mengenai urusan kamu adalah lebih sempurna dibanding pendapat kamu mengenai urusanmu sendiri. Sebagaimana yang telah difirmankan-Nya, “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri“ (Q.S. Al Ahzab : 6).
      Kemudian Allah menerangkan bahwa pendapat mereka yang berkenaan dengan pemeliharaan kemaslahatan diri mereka itu sangat dangkal. Maka Allah berfirman, “Kalau dia menuruti kami dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapatkan kesusahan“. Yaitu, kalau saja dia menuruti kamu untuk semua hal yang kamu inginkan, pastilah hal itu akan menyebabkan kesusahan bagi diri kamu sendiri. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka  berpaling dari kebanggaan itu” (Q.S. Al-Mukminuun: 71).
        Firman Allah selanjutnya, “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu”. Yaitu, memberikan rasa cinta kepada keimanan kedalam diri-diri kamu dan membuatnya indah di dalam hati-hati kamu.
      Firman Allah, “Serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan”. Yaitu, Alllah menanamkan rasa kebencian pada diri-diri kamu terhadap kekufuran dan kefasikan. Kefasikan adalah dosa-dosa besar dan kedurhakaan ialah semua tindak kemaksiatan. Dan penanaman kebencian ini merupakan untuk menyempurnakan nikmat. Firman Allah selanjutnya, “Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”. Yaitu, mereka yang mempunyai sifat seperti ini berarti telah dikaruniai petunjuk oleh-Nya.

وإن طآئفتان من المؤمنين اقتتلوا فأصلحوا بينهما, فإن بغت إحداهما على الأخرى فقاتلوا التي تبغى حتى تفئ إلى أمر الله, فإن فآءت فأصلحوا بينهما بالعدل وأقسطوا, إن الله يحب المقسطين(9) إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم, والتقوا الله لعلكم ترحكون(10)
9. dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.
10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Allah SWT. memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mendamaikan dua pihak yang berperang. “Dan jika ada dua golongan dari orang-rang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya”, Allah masih tetap menamakan mereka orang mukmin walaupun tengah berperang.
      Firman Allah, “Jika salah satu dari kedua golongan berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah”. Yaitu, hingga golongan ini kembali kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, dan siap mendengarkan kebenaran serta mentaatinya.
      Firman Allah, “Jika golongan itu telah kembali, maka damaikanlah diantara keduanya dengan adil, dan berlaku adilah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil”. Yaitu, berbuat adillah di antara keduanya dalam memutuskan persoalan yang telah menimpa kedua belah pihak.
      Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. Yaitu, semuanya bersaudara dalam satu agama dan satu keimanan.
 
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
      Kesombongan itu hukumnya haram. Boleh jadi, orang yang dihina itu kedudukannya lebih mulia di sisi Allah. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka lebih baik dari pada mereka yang mengolok-olok”, ayat ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan.
      Firman Allah, “Dan janganlah kamu mencela diri-sendiri” seperti firman-Nya, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri” (Q.S. An-Nisa’: 29). Maksudnya adalah janganlah satu sama lain saling mencela ataupun membunuh, termasuk di dalamnya mengadu domba manusia adalah mencela melalui perkataan, sebagaimana firman-Nya, ”Celakalah bagi setiap pencela dengan ucapan dan pencela dengan perbuatan” (Q.S. Al-Humazah: 1).
      Firman Allah, “Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk”. Yaitu, janganlah kalian memanggil sebagaian kalian dengan sebutan yang buruk yang tidak enak didengar oleh seseorang.
      Firman Allah, “Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk sesudah iman”. Yaitu, sejelek-jelek sifat dan nama ialah yang buruk, saling memanggil dengan sebutan yang buruk sebagaimana sifat-menyifati yang dilakukan orang jahiliyah, setelah kamu masuk islam dan kamu memahami keburukannya, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.

12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
     
Dalam ayat di atas Allah melarang hamba-Nya yang beriman banyak berprasangka, yaitu melakukan tuduhan dan sangkaan buruk terhadap keluarga, kerabat dan orang lain tidak pada tempatnya, sebab sebagaian dari prasangka itu adalah murni perbuatan dosa.
      Firman Allah, “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”. Yakni, satu sama lain mencari-cari kesalahan dari diri masing-masing.
      Firman Allah selanjutnya, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian lain”, ayat ini mengandung larangan berbuat ghibah.
      Pada ayat ke-13 Allah memberitahukan kepada hamba-Nya manusia bahwa Allah telah menciptakan mereka dari satu jiwa dan telah menjadikan dari jiwa itu pasangannya, itulah Adam dan Hawa. Dan Allah juga telah menciptakan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, karena itu, setelah Allah melarang manusia berbuat ghibah dan menghina satu sama lain, dan Allah mengingatkan bahwa mereka itu sama dalam segi kemanusiaan.
      Firman Allah, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”. Yaitu, yang membedakan derajat kamu di sisi Allah hanyalah ketaqwaan, bukan keturunan. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. :
فخياركم في الجاهلية خياركم في الإسلام إذا فقهوا. (رواه البخاري)
      “Orang yang paling baik di antara kamu semua pada masa jahiliyah adalah yang paling baik pada masa islam, apabila mereka memahami”.

III. KARAKTERISTIK ORANG SHALIH
      Susuai dengan surat Al-Hujurat ayat 1-13, karakteristik orang shalih sudah terpapar dengan jelas pada kandungan-kandungan ayat-ayat diatas. Banyak larangan dan keharusan yang semestinya diamalkan oleh orang shalih, diantaranya adalah :
  1. Tidak boleh mendahului kehendak Allah dan Rasul-Nya, baik dari segi hukum syar’i atau yang lain (ayat 1).
  2. Tidak berkata dengan suara yang lantang (keras) di hadapan Rasulullah, atau terhadap orang-orang yang dihormati, orang tua, guru dan sebagainya (ayat 2-3).
  3. Tidak memanggil nama orang dengan teriak-teriak, seperti Hai Muhammad....., Hai Muhammad......, seperti yang dilakukan oleh Aqra’. (ayat 4-5).
  4. Tidak menjadi orang fasiq, atau menerima berita dari orang yang fasiq (ayat 6-7).
  5. Bersikap bijak, agar dapat mendamaikan suatu pertikaian atau permusuhan ataupun msalah kecil (ayat 9-10).
  6. Menjaga persaudaraan antar musli, seperti sabda Rasulullah :
المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه.    “Orang muslim itu saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendzaliminya dan tidak pula membiarkan didzalimi”.
  1. Tidak dibenarkan mengejek orang lain, karena hal itu membuat diri sombong, seperti sabda Rasulullah :
الكبر بطر الحق وغمص الناس -ويروى- وغمط الناس.     “Kesombongan itu adalah mencampakkan kebenaran dan menghinakan manusia”.
  1. tidak diperbolehkan mencela diri sendiri, bahkan tidak diperbolehkan membunuh jiwa sendiri (ayat 11 dan surat An-Nisa’: 29).
  2. Tidak memanggil dengan paggilan yang buruk (lakop).
  3. Dilarang berrprasangka buruk (su’udzan) ( ayat 12).
  4. Tidak boleh berbuat ghibah dan mencari kesalahan orang lain (ayat 12).
  5. Saling menghormati antar kaum, kobilah, bangsa dan suku,karena dihadapan Allah semua adalah sama. Sesuai dengan hadits :
إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم. (رواه مسلم وابن ماجه)
“Allah tidak akan melihat penampilan dan kekayaan kamu semua, akan tetapi kepada hati dan amal kamu semua”.

Inilah di antara karakteristik orang shalih, sebenarnya masih banyak hal-hal yang harus dilakukan bagi orang untuk menjadi shalih, di antaranya berhubungan dengan sopan santun atau akhlaqul karimah terhadap semua kalangan bahkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

IV. PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL
      Pelajaran yang bisa dipetik dari Tafsir Surat Al Hujurat ayat 1-13 sangatlah banyak sekali. Hanya saja semuanya saling berhubungan antara satu dengan yang lain. Semuanya tertuju kepada kepribadian seorang muslim yang sebenarnya sehingga dapat menjadi orang shalih benar-benar shalih. Yaitu dengan tidak berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasulu-Nya, serta melaksanakan hal yang diperintahkan oleh-Nya serta menjadikan sosok Rasulullah sebagai tauladan seorang muslim sejati dalam agama islam. Dengan menjalankan ajaran-ajaran yang terdapat pada Al-Qur’an dan Hadits. Wallahu wa Rasuluhu a’lam.



Referensi :

·         Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahnya, Syamil Cipta Media
·         Atabik Ali Muhdzar, Kamus Al ‘Ashri (Kontemporer) Arab-Indonesia,
·         Arrifa’i, Muhammad Nasib,Tarjamah Tafsir Ibnu Katsir, Gema Insani Cet-12
·         K.H. Q. Shaleh - H. A.A.Dahlan – Drs. M. Dahlan, Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al Qur’an, Diponegoro Cet-6

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar